Selasa, 15 April 2014

Wanita Berpartisipasi

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd) di wilayah kecamatan Garum pada tahun anggaran 2013, mendapat alokasi dana bantuan langsung masyarakat (BLM) sebesar Rp. 1.350.000.000,- ( Satu Milyard Tiga Ratus Lima Puluh Juta Rupiah ). Diawali dengan tahapan sosialisasi di tingkat kecamatan (MAD Sosialisasi) dan dilanjutkan dengan tahapan berikutnya, yaitu Musyawarah Desa Sosialisasi ( MD Sos ), Musyawarh Khusus Perempuan ( MKP ), Musyawarah Desa perencanaan ( MDP ), MAD Prioritas, MAD Penetapan dan Musyawarah Desa Informasi ( MD Informasi ).  Untuk tahun 2013, Desa dan kelurahan yang ikut berpartisipasi hanya ada 8 desa / kelurahan yaitu kelurahan garum, Sumberdiren, Tawangsari, desa Slorok, Sidodadi, Karangrejo dan Desa Tingal. Untuk Kelurahan Tawangsari pada tahun 2013 ini mendapat usulan Sarana Prasarana yaitu Jalan Telford.  Dari 28 tenaga kerja yang bekerja pada saat pelaksanaan kegiatan 18 orang adalah perempuan.  Antusias peremuan dalam melaksanakan pekerjaan sangat tinggi, keterampilan mereka tidak kalah dengan keterampilan laki-laki.  Meskipun pekerjaan ini biasa dilakukan oleh laki-laki, tetapi perempuan-perempuan ini tidaklah canggung mengerjakan meskipun kelihatan berat. Buat mereka, dengan bekerja di pelaksanaan kegiatan PNPM MPd sangat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.  Mereka berharap bahwa dengan bekerja pada saat pelaksanaan kegiatan PNPM MPd mereka bisa menyumbangkan tenaga untuk kemajuan desa mereka karena mereka tidak bisa menyumbangkan uang tapi sumbangan tenaga mereka sangatlah berarti buat mereka karena bisa menjadi bagian dari kemajuan desa mereka.

Senin, 17 Maret 2014

Berkat PNPM-MPd kebutuhan Air Bersih di Dusun Sumbersuko Desa Sumberagung Kec. Panggungrejo Kab. Blitar Dapat Terpenuhi

Usulan desa Sumberagung untuk pengadaan sumber air bersih di Dusun Sumbersuko sangat di harapkan sekali. Dengan alokasi pendanaan PNPM-MPd TA sebesar Rp. 100.199.800,- di tambah konstribusi swadaya masyarakat Rp. 4.985.600,-. Jumlah pemanfaat air bersih 120 KK. Dalam perencanaan awal usulan air bersih ini untuk meningkatkan kebutuhan air bersih yang sudah ada tapi tidak tidak bisa memenuhi kebutuhan warga akan kecukupan air bersih. Dengan di bangunnya Tando air dan pipa distribusi yang baru oleh PNPM-MPd, masyarakat Dusun Sumbersuko Desa Sumberagung sangat berharap kebutuhan air bersih yang pada musim kemarau kesulitan air akan bisa teratasi. Dengan di bangunnya Tandon air berukuran 3 x 3 x 2,5 m di harapkan mampu memenuhi kecukupan air bersih 165 jiwa sebagai pemanfaat langsung. Di samping memenuhi kecukupan air bersih warga Dusun. Sumbersuko juga membuka peluang kesempatan kerja bagi tim pengelola distribusi air bersih tersebut. Alokasinya dari biaya penggunaan per meter kubik penggunaan air bersih oleh pengguna dan hasilnya di pertanggungjawabkan oleh tim pengelola setiap akhir tahun di dalam musyawarah tingkat dusun. Secara umum wilayah kecamatan Panggungrejo masuk dalam wilayah rawan kekurangan air bersih saat musim kemarau. Daerah kawasan hutan tanah berkapur jika musim kemarau pecah-pecah tapi jika musim hujan lembek gerak .Mudah-mudahan dengan di bangunnya satu titik tando air ini bisa sedikit menggurangi beban sebagai kecamatan rawan air bersih.
By : Dwi Winarto, ST (FT Kec. Panggungrejo)

Umur Senja Tidak Jadi Penghalang Dalam Berkarya

PNPM MPd mulai masuk di Kecamatan Kesamben pada tahun 2010. Ini merupakan kecamatan terakhir untuk lokasi Program PNPM MPd di Kabupaten Blitar. Desa Pagerwojo salah satu desa dari sepuluh desa yang ada di Kesamben yang selalu berpartisipasi mengikuti program ini mulai sosialisasi sampai serah terima. Kebetulan desa ini bisa berpartisipasi karena tidak ada tunggakan di kelompok yang menjadi salah satu syarat untuk desa yang usulannya bisa dibahas dalam MAD Prioritas. Di Kabupaten Blitar sejak tahun 2011 ada tambahan program PNPM Integrasi yang kebetulan untuk tahun 2013 program ini masuk di Desa Pagerwojo. Usulan dari Desa Pagerwojo yaitu jembatan beton bertulang bentang 6 m, gorong-gorong, TPT dan jalan telford. Waginem salah seorang warga desa yang sudah berumur 55 tahun yang seharusnya tidak melakukan pekerjaan gebal batu belah, demi pekerjaan ini bisa cepat terselesaikan dan cepat bisa dinikmati oleh masyarakat baik dari desa Pagerwojo dan Jatiroto beliau rela melakukan pekerjaan gebal batu untuk pekerjaan jalan telford dengan upah borongan per rit 40.000,. Hasil jerih payahnya perlu diacungi jempol karena dengan kondisi sekarang yang susah mencari tenaga gebal batu karena banyak warga desa ini yang pergi keluar negeri atau jawa untuk bekerja ternyata masih menyimpan suatu kekuatan dari seorang perempuan yang luar biasa dengan umur yang terbilang senja. Terima kasih Bu Waginem semoga apa yang telah engkau baktikan pada program ini menjadi amal soleh di kemudian hari, semoga kekuatanmu yang dasyat ini takkan cepat luntur.
By : Imam Budi Cahyono, ST (FT Kec. Kesamben-Blitar)

Rabu, 22 Januari 2014

Dialog Interaktif Sosialisasi PNPM di Kabupaten Blitar

Dialog interaktif sosialisasi PNPM Kabupaten Blitar di Siarkan dari Radio Daerah "PERSADA FM" tanggal 27 November 2013 yang dihadiri oleh Bpk. Agus Budi Handoko (Kaban Bapemas Kab. Blitar), Bpk. Sutikno (PjOKab Blitar), dan Bpk Erastus Dana Susanta (Faskab Blitar). Banyaknya penelpon dan sms dari masyarakat pada waktu kegiatan ini, menunjukkan kegiatan ini mendapatkan respon yang sangat bagus dari masyarakat.

Kamis, 16 Januari 2014

Eksistensi Pupuk Organik Kelompok Sri Tanjung Semakin di Perhitungkan

Foto Peralatan Pembuatan Pupuk Organik
Berbagai macam pupuk organik kini kian banyak macamnya, seperti pupuk kompos, pupuk kandang, pupuk cair, pupuk bokasi, pupuk KCL, dan masih banyak yang lainnya. Didaerah kecamatan Doko tepatnya di Desa resapombo terdapat satu home industri yang dikelola oleh kelompok ibu-ibu rumah tangga yang diketua oleh ibu Denik Dianawati, kelompok ini berdiri sejak adanya pelatihan pengolahan pakan ternak dan pengolahan pupuk organik di Desa  Resapombo yang didanai oleh program PNPM-MPd  Kec. Doko Tahun Anggaran 2010. Sejak pelatihan tersebut terbentuklah sebuah kelompok pengolahan pakan ternak dan pembuatan pupuk organik di Desa Resapombo akan tetapi seiring berjalannya waktu antara pengolahan pakan ternak dan pembuatan pupuk organik yang mendapat respon paling banyak dari masyarakat adalah pupuk organik, maka dari itu yang terus berkembang dan berkelanjutan adalah produksi pupuk organik tersebut. Menurut ketua kelompok yaitu ibu Henik Dianawati Pupuk organik yang diberi nama “Pupuk Sritanjung” untuk sekup kecamatan sudah merambah  luas para tangan petani lokal untuk lebih menyuburkan tanaman tanamannya. Dan menyelamatkan tanah dari ketandusan. Oleh sebab itu pupuk ini dinilai sangat bermanfaat bagi para petani. Selain menyebar didaerah kecamatan Doko  pemasaran pupuk ini juga sudah mulai merambah ke kecamatan tetangga seperti kecamatan Kesamben, Kec. Wlingi dan masih akan berlanjut ke daerah Kecamatan-kecamatan lainnya.Untuk cara pembuatannya pupuk yang berbahan dasar kotoran hewan dalam hal ini adalah kotoran kambing, diolah dengan cara yang cukup mudah yaitu dengan mengumpulkan kotoran kambing tersebut dan difermentasikan didalam sebuah drum yang dicampur dengan asam amina, kurun waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi tersebut adalah kurang lebih tiga sampai empat hari, setelah genap selama hari tersebut kotoran kambing tersebut dikeringkan dan kemudian digiling menggunakan mesin penggiling khusus yang merupakan hasil dari pelatihan pengolahan pakan ternak dan pengolahan pupuk organik. Kelompok ini berkumpul setiap seminggu sekali dirumah ibu Henik yang merupakan tempat dimana pupuk sri tanjung diproduksi. Setiap hari selasa atau rabu kotoran kambing mulai difermentasi dan pada hari minggu dilakukan penggilingan dan pengemasan. Pupuk ini di bandrol dengan harga Rp. 10.000,- per karungnya.Kelompok ini tidak selalu berjalan lancar ada kendala-kendala yang dihadapi mereka terutama pemasaran, selain dilingkup desa resapombo sendiri pupuk ini belum begitu diketahui oleh desa-desa lain di kec. Doko, hanya melalui kabar dari mulut ke mulut kabar pupuk ini sampai ke para petani dan masyarakat umum “ Petani-petani dikecamatan doko sendiri masih banyak yang belum mengetahui ” ujar ibu henik dari situ ibu henik sendiri berharap ada media yang mau membantu untuk menyebarkan informasi tentang pupuk yang diproduksi kelompoknya tersebut.

Rabu, 15 Januari 2014

Mengejar Impian Progres

Pelatihan Yoguart Desa Semen
Kecamatan gandusari merupakan 1 dari 19 kecamtan di kabupaten blitar yang mendapatkan dana dari progam PNPM-MPd, dari letak geografisnya yang berada di bagaian utara dari kabupaten blitar dan berada di lereng gunung kelut dan gunung kawi, kecamtan gandusari kalau dilihat sepintas memang seperti kecamatan yang terbelakang karena mungkin letaknya dilereng gunung, namun kalau kita melihat ke dalam banyak potensi yang potensial, misalnya sumber daya manusianya, dimana rasa kekeluargaan, gotong royong dan semangat membangun desa yang tak kenal pamrih. 

Hasil Kegiatan Fisik 100% Desa Gondang
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kecamatan gandusari 2 bulan yang lalu ada hal baru yang bisa saya dapat. Misalnya untuk pelaku yang ada di kecamatan mereka seperti keluarga, tidak ada istilah ini BKAD, UPK, TPK, KPMD dan pendamping mereka anggap sama. Namun perbedaan itu terasa ketika pertama kali, diadakan rakor semua peserta serius menyampaikan masalah dan proges tiap bulan, dimana ketua BKAD ( SULIADI ), ini dengan lantang mengkritiki kinerja baik UPK, FK, PL, BPUPK dengan bahasanya yang campur aduk, bahasa deso. Memang pada waktu itu proges fisik dan pencairan dana untuk kecamatan gandusari masih 0%, dan di tingkat kabupaten paling terahir, dari evaluasi tersebut  disusunlah RKTL untuk mengatasi keterlambatan, semua Pelaku di kerahkan untuk mengejar keterlambatan, terutama fisik dimana pelelangan baru selesai 6 desa dari 13 desa, maka hari minggupun tetap menjadi hari aktif baik siang dan malam, BKAD terutama bapak Suliadi ini yang peranya besar untuk pencapaian target yang sekarang di bulan Oktober ini sudah bisa mencapai 70%, Meskipun beliau bukan dari unsur apapun ( rakyat jelata ) petani, namun semua kepala desa patuh, dan setiap ada rapat, kerja bakti, penyelesaiaan tunggakan di desa manapun pasti beliau ikut.

Minggu, 15 Desember 2013

Partisipasi Perempuan Dalam Pembangunan

Desa jajar kecamatan Talun tahun 2013 ikut berpartisipasi dalam kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan kegiatan jalan telford dan TPT. Dana untuk kegiatan pembangunan jalan telford dan TPT, TPT dengan panjang 242 m dan jalan Telford 338m di dusun karangturi desa jajar, jalan ini menghubungkan antara desa jajar dengan desa tambakan kecamatan Gandusari, kegiatan jalan telford dan TPT ini dengan Total dana Rp. 193.273.400 dan swadaya masyarakat sebesar Rp. 14.100.000 uang tunai. Pada tanggal 26 september 2013 mulai pencairan BLM tahap I 40% dan realisasi dari swadaya masyarakat Rp. 10.500.000 tanggal 14 September 2013. Kegiatan ini dimulai pelaksanaan trial tanggal 1 Oktober 2012 dengan mulai pengerjaan TPT sepanjang 242 m, dengan total pekerja 32 orang, 10 orang perempuan.tukang 7 orang, TPT sepanjang 242 m diselesaikan dalam waktu 2 minggu,
Pekerja laki-laki dan perempuan dari Rumah Tangga miskin semua (RTM) berasal dari masyarakat sekitar lokasi kegiatan PNPM mandiri perdesaan yaitu di dusun karangturi desa jajar. Masyarakat sangat antusias pelaksanaan mulai dari pecah batu, langsir material sampai dengan membuat adukan mortar.

   
Papan Informasi kegiatan dan banner kegiatan yang menunjukan lokasi kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan, Papan informasi ini di tempatkan di lokasi kegiatan jadi masyarakat bisa melihat baik anggaran biaya maupun desain jalan telford dan TPT.Pekerja dan tukang dibayar setiap hari sabtu dan pembayaran juga dilaksanakan dilokasi kegiatan Jalan telford&TPT.

Jumat, 22 November 2013

MCK Umum di Tengah Masyarakat Modern

Kecamatan Sutojayan merupakan salah kecamatan yang berdekatan dengan ibukota Kabupaten Blitar dengan tingkat perekonomian masyarakat yang cukup baik. Paska relokasi FK dan FT hal menarik yang saya lihat di lokasi baru di Kecamatan Sutojayan kelurahan Jingglong adalah adanya usulan MCK umum,gambaran awal tentang Kecamatan Sutojayan merupakan wilayah yang cukup maju baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan terlebih lagi kecamatan ini merupakan kecamatan penyangga.   
Kenyataan yang dijumpai dilapangan ternyata pola hidup sehat belum sepenuhnya dianut oleh masyarakat Jingglong, hal ini tak lepas dari kondisi topografi kelurahan Jingglong dimana wilayahnya dilalui oleh anak sungai Lodagung sehingga kebiasan turun temurun terkait dengan aktifitas mandi cuci dan kakus masih banyak yang menganut pola lama. Ditengah masyarakat modern ini kebiasan tersebut kenyataannya tidak mudah sedemikian rupa untuk merubahnya,perlu pendekatan dan penjelasan secara kontinyu pada masyarakat setempat khususnya yang berdekatan dengan sungai. Kebiasaan masyarakat yang masih melakukan pola lama tak lepas dari korelasi kondisi sosial ekonomi yang mereka alami, fakta dilapangan masyarakat pemanfaat langsung MCK ini adalah masyarakat RTM, mungkin dengan keadaan ekonomi mereka (RTM) untuk mewujudkan sebuah MCK dirasa bukan sebuah kebutuhan yang terlalu urgent karena butuh biaya yang cukup banyak disisi lain kebutuhan ekonomi mereka untuk hal lainnya dirasa lebih perlu dan kondisi wilayah yang dekat sungai ini dirasa sebagai jalan pintas yang praktis dan ekonomis. Berpijak dari kenyataan ini disatu sisi merupakan sebuah tantangan bagaimana agar masyarakat terangkat ekonominya sehingga secara perlahan pola hidup sehat akan mampu mereka terapkan.

Berkembangnya Usaha Budidaya Jangkrik Berkat Pinjaman SPP

Ibu Nanik adalah salah satu sosok perempuan tokoh masyarakat di desa Pojok Kecamatan Ponggok yang merupakan salah satu Kecamatan di kabupaten Blitar. Selaku istri sekdes beliau merasa peduli dengan kesejahteraan warganya. Oleh sebab itu ketika ada program yang masuk ke desanya yaitu Program Pengembangan Kecamatan (PPK) tahun 2003  khususnya SPP (Simpan Pinjam kelompok Perempuan) beliau benar-benar memanfaatkannya dengan mengakomodir anggota kelompok PKK Desa untuk pinjam sebagai tambahan modal usahanya. Diawal pinjam kelompok tersebut tepatnya tahun 2003 sebesar Rp. 6.175.000,- dengan jumlah anggota 10 0rang. Bertambah tahun kelompok tersebut jumlah pinjaman bertambah besar sebagaimana pinjaman terakhir Rp. 142.500.000,- dengan jumlah peminjam 20 orang. Adapun jenis usaha kelompok PKK Desa meliputi : petani Blimbing, ternak jangkrik, ethek/pracangan, ternak bebek, warung sate, Candak kulak. Kelompok PKK Desa ini nilai angsuran bagus/ tidak pernah nunggak, administrasi kelompok ada/cukup baik, pertemuan rutin.
Mbak Miftakhul  Jannah adalah salah satu anggota kelompok PKK desa yang diketuai Bu. Nanik Iswahyuni yang bertempat tinggal di dusun Krajan desa Pojok Kec. Ponggok. Ia memulai memanfaatkan dana pinjaman PNPM (dulu PPK) sejak tahun 2005 dengan pinjaman awal  Rp. 1.000.000,-  dengan usaha ternak jangkrik kecil kecilan dan menjadi pembeli peternak jangkrik sekitar 30 orang. Semakin bertambah tahun usahanya yang merupakan usaha bersama suaminya semakin berkembang. Untuk peningkatan usaha tersebut pinjaman modal dari PNPM sangat dirasakan olehnya, dan besar pinjamanpun semakin besar  menjadi  Rp. 10.000.000, sedangkan periode pinjaman terakhir ia hanya pinjam Rp. 5.000.000,- karena sesuai   kebutuhan tambahan modalnya. Kondisi usaha 4 tahun terakhir ini  Mbak Mif bersama suaminya membangun kemitraan dengan peternak jangkrik sampai 100 orang dengan wilayah sampai luar desa : bacem, kebonduren  dan luar kecamatan : Ngaglik /Srengat dan Dayu / Nglegok. Jadi setiap 2 hari sekali suami m.mif mengambil hasil ternak jangkrik dengan membayar / membeli jangkrik setelah dikurangi biaya pakan dan etre (tempat telur sebagai media ternak) sebesar Rp. 15.000/kg. (bln Okt ’13) sementara ia menjual hasil tersebut ke pedagang Rp. 20.000/kg kotor ( belum dikurangi biaya transport dan kuli naik dan turunkan jangkrik) x  4 Kwintal (400 kg). Beberapa  pernyataan penting darinya  :  “ Beli mobil Pick-up dari usaha jangkrik ”,  “ pekerjaan ternak jangkrik dan pengepul adalah pekerjaan utamanya “, “ Kalau tidak merasa berkembang dan beruntung untuk apa dilanjutkan”  Alhamdulillah dengan usaha Jangkrik bisa menghidupi keluarganya ( 2 anak dan 1 istri ) yang semakin sejahtera,Amin

Kamis, 17 Oktober 2013

PNPM Mandiri Perdesaan Jatim Serius Dalam Upaya Menyelamatkan Dana Bergulir Untuk Masyarakat Miskin

Dipublikasikan Oleh PNPM Mandiri Perdesaan Jawa Timur pada Minggu, 13 Oktober 2013 | 09.57

Berita ini diambil dari : http://www.pnpm-jatim.blogspot.com/2013/10/pnpm-mandiri-perdesaan-jatim-serius.html
Dewan Desak Kajari Sumenep Ungkap Korupsi Rp 2 Miliar
SUMENEP – Komisi C DPRD Sumenep, mendesak  Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep, segera menuntaskan kasus dugaan penyelewengan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) sebesar Rp 2 miliar, yang di lakukan oknum Unit Pengelola Keuangan (UPK), Kecamatan Talango,  Sumenep.
Sebab sejak 2010 lalu, kasus yang ditangani Kejari Sumenep, hingga sekarang belum ada kejelasan, sehingga menimbulkan kesan miring terhadap Kejari, yang dinilai setengah hati dalam menuntaskan kasus korupsi.  Anggota Komisi C DPRD Sumenep, Akh Fauzi Hasyim mengatakan,  dirinya sangat menyesalkan tindakan UPK Kecamatan Talngo, yang membuat resah masyarakat serta merugikan keuangan negara cukup besar.”Kami harap Kejari segera menangani kasus penyelewengan dana PNPM tersebut, agar masyarakat segera tahu kebenaran kasus itu, dan tahu sanksi apa yang akan dijatuhkan terhadap pelakunya,” katanya, Rabu (18/9/2013).
Fauzi menambahkan, pihaknya meminta kejari  bekerja serius menangani persolan penyelewengan dana tersebut. Jangan sampai ada anggapan kejari lambat dan tidak ada niat dalam menangani kasus yang telah nyata masuk ke meja kejari. Apalagi persolan penyelewengan tidak boleh di anggap remeh dan main-main, karena  persoalan tersebut menyangkut persoalan masyarakat umum.  Bahkan Ach Fauzi berjanji mengawal setiap persoalan korupsi maupun penyelewengan yang terjadi di Sumenep. Tidak terkecuali dugaan penyelewengan PNPM. ”Kami akan terus mengawal setiap persoalan hukum di  Sumenep ini, sehingga persoalan hukum di sumenep berjalan sesuai undang – undang yang berlaku serta tidak ada permainan hukum,” tegasnya.
Kasi Intel Kejari Sumenep, I Nyoman Suji Agutina Aryatama mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih mengumpulkan bukti pendukung maupun data - data  dugaan penyelewengan yang telah dilaporkan oleh seluruh kepala desa Kecamatan Talango.
Sebagai bukti keseriusan, kejari sudah turun kelapangan  meminta keterangan langsung dari pihak yang bersangkutan. Berdsarkan hasil audit di lapangan beberapa hari yang lau, pihak kejari belum menemukan cukup bukti, adanya tindak pidana terhadap dalam kasus PNPM yang dilaporkan warga.
”Kejadian itu kan sudah tahun 2010 yang lalu. Tentunya sekarang sudah ada perubahan struktur, Jadi  dilapangan hanya ketemu dengan pengurus baru yang tidak tahu menahu masalah tersebut. Tapi kami tidak akan putus asa dan akan mencari data lain yang dapat menjerat pelaku,” katanya.
Sekadar diketahui, terendusnya penyelewengan danan PNPM Mandiri Perdesaan yang ditengarai telah dilakukan oleh salah satu oknum UPK Kecamatan Talango, berawal saat seluruh kepala desa se Kecamatan setempat melaporkan tindakan itu ke Kejari Sumenep. Sebab tindakan tersebut dinilai telah merugikan Negara, selain telah meresahkan warga setempat.  Adapun jumlah nominal yang diduga telah diselewengkan itu, mencapai Rp 2 milliar lebih, yang berasal dari dana PNPM pusat yang diperuntukkan sebagai dana simpan pinjam secara bergulir. Namun ironisnya, dana 2 milliar itu deselewengkan dengan memakai kelompok fiktif.  [Dari : SURYA, Online - kiriman Tim Faskab Sumenep]
Sedangkan kontributor dari Tim Faskab Probolinggo juga mengirimkan berita - seperti dibawah :

Anda Kuli Atau Tukang ?

Minimnya media informasi dan publikasi yang dimiliki oleh PNPM sebenarnya menjadi persoalan besar yang harus mendapat penanganan secara serius. Menurut saya selama ini dari mayoritas masyarakat di Kabupaten Blitar khususnya di Kecamatan Talun hampir  75%  dari mereka tidak mengetahui apa itu PNPM Mandiri Perdesaan. Bahkan dari Pelaku PNPM sendiri pun terkadang juga belum memahami PNPM yang sebenarnya karena sering dalam mengucap nama PNPM sendiri pun yang seharusnya P-N-P-M menjadi P-N-P-N, dan ironisnya rata-rata mereka adalah dari golongan masyarakat menengah ke atas bahkan para pemangku kepentingan. Apalagi kalau sudah berbicara pemahaman masyarakat menengah kebawah tentang PNPM akan muncul banyak pemahaman yang jauh berbeda bahkan terkadang sulit  untuk dipahamkan. Seringkali Kami sebagai Unit Pengelola Kegiatan (UPK) yang selalu berkumpul dengan kelompok pemanfaat dihadapkan pada persoalan sederhana ini yang justru membutuhkan energi yang lebih untuk bisa benar-benar memahamkan mereka. Pernah suatu ketika saya melemparkan sebuah pertanyaan sederhana pada saat saya melakukan pencairan dana pada kelompok SPP / UEP yang sudah pinjam bertahun-tahun. Berikut dialog sederhananya :
Saya             : Bu Panjenengan sudah pinjam uang ini berapa tahun?
Kelompok    : Sejak awal Mas, tahun 2003. Berarti udah 9 tahunan! Jawab seorang pengurus Kelompok
Saya             : Panjenengan tau tidak uang yang dipinjam ini milik siapa?
Anggota    : Ya ndak tau, pokoknya uang dari Kecamatan Mas! Salah seorang anggota kelompok  memberikan jawabanya sambil tertawa kecil.
Dari dialog sederhana diatas kita dapat menggaris bawahi sebuah kesimpulan bahwa masyarakat masih sangat awam sekali dengan program ini, apalagi dengan namanya yang cukup panjang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan atau yang disingkat dengan PNPM MPD, membutuhkan waktu cukup lama dan juga membuat mereka berfikir ulang untuk menghafalkan nama ini.  Padahal mereka sebenarnya sudah bertahun-tahun menggunakan dana ini untuk menambah modal usaha mereka. Lain lagi dengan pemahaman masyarakat yang sama sekali tidak pernah tersentuh Program ini secara langsung, seperti cerita yang satu ini. 

Ada sebuah pengalaman menarik ketika Saya bersama Keluarga mengantarkan sikecil untuk pijat dirumah seorang Dukun Pijat di Desa Jeblog, masyarakat sering memanggil beliau dengan sebutan Mbah Tun. Beliau melontarkan sebuah pertanyaan singkat dan kami sebagai UPK pasti seringkali mendapat pertanyaan yang simple ini dan juga pertanyaan tersebut seringkali ditanyakan oleh semua orang saat pertama kali bertemu yaitu “Bekerja dimana?”. Sekilas pertanyaan tersebut pasti dinilai tidak memiliki bobot yang berarti bagi semua orang, tapi bagi kami UPK menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Hal pertama kali yang muncul dalam otak  adalah darimana saya harus mengawali jawaban dari pertanyaan singkat ini. Dulu saat Kantor kami masih satu lokasi dengan Kantor Camat Talun mungkin jawabannya juga singkat “Saya kerja di Kecamatan” dan pasti tidak membutuhkan penjelasan yang panjang lebar. Tapi karena Kantor kami saat ini terpisah jauh dengan Kantor Camat akhirnya penjelasan yang mendetail mutlak harus dijabarkan meski akhirnya akan terus menimbulkan pertanyaan yang berkelanjutan. Ketika saya mencoba menjelaskan secara mendetail tentang Pekerjaan saya, sekaligus menjelaskan tentang Program ini yang bergerak dalam bidang Pembangunan sarana prasarana dan Simpan Pinjam. Termasuk saya berikan contoh pembangunan jalan yang ada di lingkungannya ternyata beliau tetap tidak paham juga dan malah menggaris bawahi dan bersikukuh kalau pekerjaan saya adalah “Kuli atau Tukang”. Karena beliau memahami saya bekerja dalam hal Pembangunan. Namun, akhirnya saya menyerah dan mengiyakan jawaban tersebut daripada harus berlama-lama debat tanpa ujung. Dari sebagian gambaran permasalahan yang ada diatas, ada beberapa hal yang menjadi titik konsentrasi kritis terutama terkait minimnya Media Sosialisasi dan Publikasi yang dimiliki oleh PNPM di tingkat Kecamatan. Bersyukur sekarang di tingkat Kabupaten telah dibentuk Pokja RBM (Ruang Belajar Masyarakat) yang perlahan mulai mengadakan sosialisasi tentang PNPM Mandiri Perdesaan  itu sendiri. Namun alangkah lebih baiknya juga didukung ditingkat Kecamatan dengan berdasarkan pada intruksi di tingkat Kabupaten atau diatasnya. Karena selama ini pengalokasian anggaran Publikasi ditingkat Kecamatan selalu terganjal dengan perbedaan pemahaman aturan  antara fasilitator sebagai Pendamping di Kecamatan dengan Pelaku PNPM di tingkat Kecamatan. Sebagai contoh untuk pengalokasian anggaran publikasi Spanduk, Brosur, Kalender dan media informasi Buletin lainnya selalu anggarannya terkena pemangkasan disaat pembuatan rencana anggaran biaya diawal tahun. Akhirnya hingga berujung pada penghapusan anggaran untuk bidang tersebut, karena kalau adapun biayanya benar-benar ditekan seminimal mungkin sampai akhirnya tidak mencukupi untuk direalisasikan. Dari sinilah bermula untuk alokasi media informasi dan publikasi ditiadakan untuk tahun berikutnya. Padahal kalau kita bisa lebih jeli melihat kondisi pemahaman masyarakat kita yang masih sangat awam akan PNPM hal ini seharusnya lebih digalakkan lagi. Karena salah satu tujuan PNPM Mandiri Perdesaan adalah dalam upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di wilayah perdesaan. PNPM Mandiri Perdesaan mengadopsi sepenuhnya mekanisme dan prosedur Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang telah dilaksanakan sejak 1998. Sudah barang tentu pengenalan dan pemahaman masyarakat mutlak harus diutamakan.Saya sebagai sekretaris UPK di Kecamatan Talun berusaha untuk bisa membuat sebuah media informasi kepada masyarakat, agar segala informasi terkait PNPM dapat tersampaikan secara langsung. Awalnya ingin membuat sebuah bulletin UPK sebagai media informasi dan wahana control social, namun terganjal dengan minimnya dana yang dialokasikan sehingga rencana ini harus gagal. 

Akhirnya saya berinisiatif membuat sebuah website gratisan dengan menggunakan webblog gratisan blogspot dengan alamat http://pnpmmpd-talun.blogspot.com dan juga membuat sebuah forum di Facebook yang telah memiliki anggota sebanyak 107 orang dengan alamat http://www.facebook.com /groups/pnpmtalun dari sejumlah anggota tersebut mayoritas adalah para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan dan masyarakat Kecamatan Talun. Dengan dua buah media tersebut kami berusaha untuk memberikan informasi kepada masyarakat Kec. Talun khususnya, meski dirasa hal ini tak dapat mengena kepada masyarakat miskin di pedesaan secara langsung, namun minimal ada sebuah media yang dapat digunakan sebagai wadah untuk saling berbagi informasi dan saling berkomunikasi antar pelaku sehingga dapat membantu memberikan informasi kepada masyarakat awam. Program pemberdayaan masyarakat ini dapat dikatakan sebagai program pemberdayaan masyarakat terbesar di tanah air. Dalam pelaksanaannya, program ini memusatkan kegiatan bagi masyarakat Indonesia paling miskin di wilayah perdesaan. Program ini menyediakan fasilitasi pemberdayaan masyarakat/ kelembagaan lokal, pendampingan, pelatihan, serta dana Bantuan Langsung untuk Masyarakat (BLM) kepada masyarakat secara langsung. Besaran dana BLM yang dialokasikan tidak tanggung-tanggung sebesar Rp 600 juta sampai Rp3 miliar per kecamatan, tergantung jumlah penduduk. Kehadiran PNPM Mandiri Perdesaan yang masuk diwilayah Kecamatan Talun sejak tahun 2003 dengan nama Program Pengembangan Kecamatan (PPK), disadari atau tidak telah merubah berbagai pola pikir masyarakat secara perlahan. Keadaan ini dibuktikan dengan mulai berubahnya sedikit demi sedikit pola pikir perempuan untuk maju dan berkembang dengan segenap potensi yang mereka miliki. Seiring dengan berubahnya  mulai mau mengikuti pertemuan pertemuan, bahkan dengan latar belakang suku dan etnis yang berbeda-beda, ada suku Jawa, Sunda, Bugis, dan Madura mereka mulai membuat kelompok-kelompok dengan berbagai kegiatan yang beragam, diantaranya : pengajian, arisan, olah raga, dan lain sebagainya. 

Sungguh disayangkan jika Program yang sedemikian apiknya tidak disosialisasikan secara terbuka melalui berbagai media secara umum, hanya melalui forum musyawarah di tingkat Desa dan Kelurahan yang mayoritas orangnya tetap itu-itu saja. Karena itu perlu ada keyakinan dan percaya diri yang tinggi agar ketika kebenaran dan kebaikan ini ditransparankan ditengah masyarakat dapat menimbulkan kemaslahatan yang kuat. Untuk itu harus menghilangkan ketakutan ketika kita menuai kritik atau pun besarnya biaya yang harus dikeluarkan, jadi tidak perlu ada keragu-raguan. Sebagaimana dahulu para Nabi tidak sedikit menuai kritikan, cemohan, pengusiran, dan ancaman nyawa justru tidak membuat mereka berhenti menyampaikan kebenaran kepada ummatnya. Inilah contoh komitmen yang sangat luar biasa, yang mestinya dipegang oleh seorang fasilitator atau kita sebagai Pelaku PNPM sebagai 'social of change dan social of control' ditengah masyarakat, ketika seorang fasilitator diteror, dicemoh, dicaci maki maka berpositif thinkinglah bahwa mereka belum mengetahui apa-apa. Maka tugas kits meluruskannya sampai mereka betul-betul tahu. Biarkan mereka menghantam kits dari segala lini yang penting kits berjalan saja sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku, kata Mario Teguh yang saat menjadi motivator papan atas dengan Golden Waysnya . Lakukan apa yang anda pikirkan, lalu lihat apa yang terjadi? sekian dan terima kasih.
Ditulis oleh Hadi Nurhanifan. (Sekretaris UPK Kec. Talun 2010 – 2012)